konversi sistem lama ke sistem baru

Seringkali terjadi suatu kesalahan besar yang berakibat fatal pada perusahaan ketika akan melakukan konversi dari sistem yang lama dan sistem yang baru. Fenomena terjadi karena sistem yang dikembangkan tidak atau kurang sesuai dengan keinginan pengguna, karena proses investigasi, analisa  design  sistem yang dikembangkan kurang tajam. Penglaman sangat diperlukan serta   permasalahan yang tejadi dan keinginan dari user haruslah dipahami dengan baik oleh pengembang sistem. Adanya perilaku yang  cenderung menolak atau sulit menerima setiap perubahan dalam organisasi perusahaan, khususnya yang sistem informasi  baru yang memerlukan peningkatan pengetahun dan keterampilan. Adanya kekhawatiran dari karyawan perusahaan apabila sistem informasi baru  (komputerisasi)  diimplementasikan akan terjadi ‘lay-off’ karyawan perusahaan.  (pengurangan pegawai) dan tidak dibarengi dengan  ‘business re-engineering process’, sehingga sistem komputerisasi kurang memberikan dampak effisiensi dan efektivitas yang maksimal bagi perusahaan.

Selain itu, belum siapnya sumber daya untuk mengaplikasikan sistem yang baru. Sistem baru sudah terpasang, namun terdapat kesalahan prosedur dalam pelaksanaanya, sehingga perubahan tidak dapat terjadi. Sehingga keberadaan sistem baru justru mempersulit kinerja yang sudah ada. Perencanaan dan aplikasi sistem Informasi tidak memiliki arah dan tahapan yang baik. Tidak ada komunikasi yang baik diantara vendor sebagai penyedia IT dengan perusahaan sebagai pengguna, sehingga sistem baru yang terbentuk menjadi tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna dan Level kematangan perusahaan terhadap TI masih rendah.

Perusahaan juga tidak boleh memandang perubahan teknologi hanya sebagai sebuah trend dan hal yang harus dilakukan agar perusahaan tidak ketinggalan zaman. tetapi sebenarnya perusahaan tidak membutuhkan teknologi tersebut. Perencanaan aktivitas implementasi tidak dipersiapkan secara comprehensive dan integrated yang  meliputi aktivitas  Hardware, software and services acquisition,  Software development  or modification, End user training, Sistemdocumentation dan Conversion methode : pilot project,  paralllel cut-over, phase-in cut over, direct cut over (plunge).

Kompleksitas dalam pengkonversian tergantung pada beberapa faktor  yaitu  Jenis PL, Database, Perangkat H/W, Kendali, Jaringan, prosedur. Untuk mengganti sistem yang lama dengasn sistem yang baru ada empat pendekatan yang dapat dilakukan antara lain

1. konversi paralel

Pendekatan konversi parallel dilakukan dengan mengperasikan sistem yang baru dan sistem yang lama selama satu periode tertentu. Selama periode waktu tersebut, operasional dan hasil kedua sistem dibandingkan dan dievaluasi. Kesalahan identifikasi dan dikoreksi, dan masalah operasional dapat diselesaikan sebelum sistem yang lama ditinggalkan. Instalasi dapat juga dilakukan secara langsung ke dalam sistem yang baru dikembangkan. Kelebihan pendekatan ini adalah resiko penerapan yang rendah, jika sistem yang baru gagal, masih ada sistem yang lama yang tetap dapat beroperasi. Kekurangannya adalah biayanya mahal, karena harus mengoperasikan dua sistem secara bersamaan. Untuk itu, pendekatan ini dilakukan untuk sistem yang kompleks dan besar.

2. konversi pilot

Pendekatan konversi pilot dilakukan bertahap pada suatu lokasi sevagai suatu percontohan dan jka berhasil dilaukan pada lokasi selanjutnya. Konversi bertahap memungkinkan proses implementasi secara bertahap di organisasi. Pendekatan ini dilakukan bila suatu sistem sejenis akan diterapkan dibanyak bagian atau lokasi. Pendekatan ini cocok dilakukan jika ada perubahan prosedur. Kelebihannya resiko kegagalam penerapan sistem sedang, karena keagalan sistem mungkin terjadi hanya terletak pada konversi yang awal saja, kesalahan pada lokasi sebelumnya dapat diperbaiki telebih dahuku sehingga tidak terjadi pada lokasi lainnya. Kelemahannya adalah waktu konversi menjadi lama karena dilakukan tidak langsung untuk seluruh lokasi tapi bertahap unuk masing masing lokasi dan membutuhkan area(sebagian) dari organisasi untuk uji coba.

3. konversi bertahap (phased)

Pendekatan konversi bertahap dilakukan dengan menerapkan masing masing modul dari sistem bertahap dan urut. Pendekatan ini dilakukan dengan menerapkan sebuah modul terlebih dahulu, jika sukses maka disusul dengan modul lainnya sampai semua modul selesai diterapkan.

Kelebihan pendekatan ini adalah resiko kegagalan penerapan sistem sedang yaitu kegagalan hanya terletak pada modul konversi yang awal, selanjutnya diperbaiki untuk modul selanjutnya. Kecepatan perubahan dalam organisasi tertentu dapat diminimisasi, dan sumber-sumber pemrosesan data dapat diperoleh sedikit demi sedikit selama periode waktu yang cukup luas. Kelemahannya: biaya yang ditiadakan untuk mengembangkan interface temporer dengan sistem lama, daya terapnya terbatas, dan terjadi kemunduran semangat di organisasi karena orang-orang tidak pernah merasa menyelesaikan sistem dan  waktu konversi sistem menjadi lama karena dilakukan tidak lagsung pada semua modul tetapi bertahap untuk masing masing modul

4. konversi langsung

Pendekatan konversi lagsung dilakukan dengan mengganti sistem yang lama langsung dengan sistem yang baru. Kelebihannya adalah biaya konversi tidak terlalu besar tetapi kelemahannya adalah resiko yang harus ditanggung besar karena kegagalan sistem yang baru dapat berakibat fatal berhentinya kegiatan dari sistem karena sistem yang lama juga diberhentikan. Oleh karena itu, pendekatan ini dilakukan jika sistem baru tidak mengganti sistem lama, Sistem lama sepenuhnya tidak bernilai, Sistem baru bersifat kecil/sederhana dan Rancangan sistem baru sangat berbeda dari sistem yang lama.

Untuk menghindari kesalahan yang terjadi dalam konversi sistem dalam suatu organisasi dapat dilakukan beberapa cara berikut ini:

  • Perusahaan harus mengkaji ulang visi, misi, serta tujuan yang akan dicapai serta mempelajari implementasi-implementasi yang belum optimal
  • Melatih sumber daya manusia (SDM) agar mampu menjalankan dan mengoptimalkan fungsi dari sistem informasi baru yang diterapkan.
  • Pemimpin perusahaan harus mengetahui dan mengerti mengenai pentingnya sistem baru ini diterapkan di perusahaan sehingga memberikan perhatian terhadap pengimplementasian sistem baru ini di perusahaan.
  • Perusahaan harus memberikan perhatian yang sama terhadap bagian pengolahan informasi, sehingga jenjang karir pada bagian ini jelas dengan demikian karyawan termitivasi untuk ditempatkan pada bidang tersebut.
  • Harus menciptakan sinergisme diantara subsistem-subsistem yang mendukung pengoperasian sistem sehingga akan terjadi kerjasama
  • Mengevaluasi dan memperoleh perangkat keras baru dan perangkat lunak. Hardware meliputi sistem komputer, terminal POS, dan prosesor telekomunikasi dan fasilitas jaringan. Software mencakup program manajemen jaringan dan paket transaksi POS pengolahan.
  • Mengembangkan program komputer atau membuat modifikasi yang diperlukan untuk paket perangkat lunak yang akan dibeli.
  • Menyiapkan materi pelatihan dan dokumentasi tentang cara mengoperasikan sistem POS baru untuk manajer dan tenaga penjualan.
    Mendidik dan melatih manajer, tenaga penjualan, dan sistem informasi personil untuk mengoperasikan sistem yang baru.
  • Uji sistem dan melakukan koreksi sampai beroperasi dengan benar
    Dikonversi ke sistem baru secara bertahap untuk meminimalkan gangguan. Gunakan toko pertama dikonversi sebagai instalasi pilot untuk membantu dengan pengujian dan pelatihan.
  • Melakukan audit pasca-implementasi dalam waktu 30 hari dari setiap konversi untuk menentukan apakah sistem POS baru mencapai keuntungan yang diharapkan

DAFTAR PUSTAKA

Jogiyanto. 2003. sistem teknologi informasi.pendekatan terintegrasi : konsep dasar, teknologi, aplikasi, pengembangan dan pengelolaan. ANDI. Uogyakarta

O’Brien, JA . Marakas, george. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Mc Graw Hill. Inc Boston

pdf : konversi sistem


Posted in Uncategorized by with comments disabled.

OUTSOURCING : ALASAN, KELEBIHAN DAN KEKURANGAN

Saat ini banyak perusahaan IT outsourcing bermunculan. Hal ini disebabkan perusahaan merasa bahwa sistem informasi sudah meruapakan kebutuhan tetpi beberapa diantaranya menganggap bahwa sistem informasi bukanlah core competensi bisnisnya, sehingga banyak perusahaan menggunakan siste orutsourcing untuk menghemat sumber daya baik sumber daya manusia, perangkat keras maupun biaya, sehingga perusahaan tersebut dapat lebih berfokus pada bisnis utamanya dan tidak terlalu menghabiskan energi untuk memikirkan aspek pengelolaan teknologi informasi. Manfaat yang diperoleh dari outsourcing meliputi penghematan biaya, meningkatnya fleksibilitas, kualitas layanan yang lebih baik, dan tersedia akses terhadap teknologi baru dengan resiko yang tidak terlalu besar bagi perusahaan.

Outsourcing adalah metode penggunaan sumber daya manusia yang berasal dari pihak eksternal (pihak ketiga) untuk menangani atau membangun sistem perusahaan dengan cara membeli aplikasi dengan vendor. Berdasarkan data dari divii riset pm manajemen, 73% perusahaan menggunakan metode outsourcing untuk membantu operasi perusahaan dan meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap outsourcing IT semakin meningkat. Fokus outsourcing teknologi informasi telah berkembang mulai dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, standarisasi perangkat keras dan perangkat lunak, sampai pada solusi total yang mengacu pada manajemen aktiva

O’Brien dan Marakas (2009) menjelaskan ada 10 hal penting mengenai outsourcing seperti 10 alasan perusahaan menggunakan outsourcing, 10 faktor yang harus iperhatikan dalam pemilihan vendor, 10 kunci sukses penerapan outsourcing dan 10 are yang paling sering di outsourcing, seperti terlihat pada Gambar

Keputusan perusahaan untuk melakukan outsourcing dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut O’brien (2009), ada beberapa alasan perusahan melakukan outsourcing yaitu :

  1. Meningkatkan fokus perusahaan.

Perusahaan dapat fokus pada masalah dan strategi utama dan umum sedangkan pelaksanaan tugas sehari-hari yang kecil-kecil diserahkan pada pihak ketiga, sehingga akan lebih menguntungkan bagi perusahaan jika menyerahkan pengelolaan teknologi informasinya kepada perusahaan yang memiliki keahlian khusus di bidang teknologi informasi. Dengan meningkatkan fokus pada bisnis utamanya maka perusahaan juga akan mampu lebih meningkatkan lagi core competence atau kompetensi utamanya.

  1. Memanfaatkan kemampuan kelas dunia.

Pada umumnya, perusahaan outsource  mempunyai pengalaman yang cukup banyak bekerja dengan para kliennya dalam memecahkan masalah yang mungkin serupa atau hampir serupa. Sehingga perusahaan akan memiliki sistem yang memeiliki keunggulan kelas dunia dalam bidangnya.

  1. Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari reengineering.

Memperbaiki proses di perusahaan sendiri untuk meniru standard perusahaan kelas dunia memerlukan waktu yang sangat panjang dan sukar. Makin banyak perusahaan yang mengatasi hal ini dengan melakukan outsourcing agar mendapatkan hasil langsung dan tanpa risiko.

  1. Membagi risiko.

Apabila semua aktivitas dilakukan oleh perusahaan sendiri, semua investasi yang diperlukan untuk setiap aktivitas tersebut harus dilakukan oleh perusahaan sendiri pula. Apabila beberapa aktivitas perusahaan dikontrakkan kepada pihak ketiga, maka risiko akan ditanggung bersama pula.

2.Sumber daya sendiri dapat digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan lain.

    perusahaan tentu mempunyai keterbatasan dalam pemilikan sumber daya. Tantangan yang terus-menerus harus dihadapi adalah bahwa sumber daya tersebut harus selalu dimanfaatkan untuk memanfaatkan bidang-bidang yang paling menguntungkan.

    1. Memungkinkan tersedianya dana kapital.

    Outsourcing juga bermanfaat untuk mengurangi investasi dana kapital pada kegiatan non core. Sebagai ganti dari melakukan investasi di bidang kegiatan tersebut, lebih baik mengontrakkan sesuai dengan kebutuhan yang dibiayai dengan dana operasi, bukan dana investasi.

    1. Menciptakan dana segar.

    Outsourcing, sering kali dapat dilakukan tidak hanya mengontrakkan aktivitas tertentu pada pihak ketiga, tetapi juga disertai dengan penyerahan/penjualan/ penyewaan aset yang digunakan untuk melakukan aktivitas tertentu tersebut. Aset tersebut misalnya kendaraan, bengkel, peralatan angkut dan angkat dan sebagainya. Dengan demikian, akan mengalir masuk dana segar ke dalam perusahaan. Dana ini akan menambah likuiditas perusahaan dan dapat dipergunakan untuk maksud-maksud lain yang lebih bermanfaat.

    3. Mengurangi dan mengendalikan biaya operasi.

      Salah satu keuntungan yang sangat taktis dari outsourcing adalah memungkinkan untuk mengurangi dan mengendalikan biaya operasi. Pengurangan biaya ini dapat dan dimungkinkan diperoleh dari mitra outsource melalui berbagai hal misalnya spesialisasi, struktur pembiayaan yang lebih rendah,  ekonomi skala besar (economics of scale) dan lain-lain.

      1. Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki sendiri.

      Perusahaan perlu melakukan outsourcing untuk suatu aktivitas tertentu karena perusahaan tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tersebut secara baik dan memadai.

      4. Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan atau dikelola.

        Outsourcing dapat juga digunakan untuk mengatasi pengelolaan hal atau mengawasi fungsi yang sulit dikendalikan, misalnya birokrasi ekstern yang sangat berbelit yang harus ditaati oleh perusahaan yang dimiliki negara dalam menjalankan fungsi pembelian barang dan jasa, yang sulit ditembus dengan cara-cara biasa. Hal ini mungkin dapat dipecahkan dengan mengkontrakkan saja seluruh pekerjaan tersebut pada pihak ketiga, yang berbentuk swasta yang tidak terikat pada birokrasi tertentu.

        Dari alasan tersebut diatas, didapatkan data bahwa alasan yang paling banyak dilakukan dikarenakan perusahaan ingin fokus tehadap core business sebesar 33,75%, sebesar 28,75%  untuk penghematan biaya, sebesar 15% untuk menjaga turn over karyawan, sebesar 11,25% untuk memoderinsasi dunia usaha dan sisanya disebabkan faktor lainnya.

        Sistem outsourcing memiliki keuntungan sehingga banyak perusahaan menggunakan jasa vendor untuk melakukan outsourcing pada perusahaannnya dalam rangka meningkatkan kinerja usahanya melalui pengelolaan organisasi yang efektif dan efisien, tetapi, sistem outsourcing juga memiliki kelemahan.  Keputusan perusahaan untuk menggunakan outsourcing atau insourcing ditentukan oleh factor kemampuan sumber daya perusahaan.

        Metode outsourcing cocok digunakan jika kebutuhan pembangunan TI bukan merupakan core competensi perusahaan tetapi proyek besar yang membutuhkan keahlian IT yang tinggi. Selain itu, perusahaan tidak memiliki sumberdaya manusia yang kompeten dan jika mempekerjakan staff justru menambah biayaseperti biaya operasional, biaya kerja, tunjangan, dll. Perusahaan tidak yakin dapat merawat dan mengembangkan fungsi IT untuk memenuhi kebutuhan perusahaan yang semakin tinggi, kemampuan re-engineering, ROI, kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi terbaru dan keberlanjutan sistem.

        Adapun kelebihan dan kelemahan Outsourcing dibandingkan insourcing antara lain :

        A.     Kelebihan  Outsourcing

        §         Perusahaan dapat fokus pada core business-nya dengan tetap menikmati nilai-nilai positif dari sistem dan teknologi informasi.

        §         Teknologi yang maju. IT outsourcing memberikan akses kepada organisasi klien berupa kemajuan teknologi dan pengalaman personil.

        §         Waktu yang digunakan menjadi lebih singkat untuk ketetapan dalam organisasi

        §         Dapat memenuhi kebutuhan perusahaan akan personil IT yang handal

        §         Biaya variabel dapat diubah menjadi biaya tetap dan membuat biaya variabel menjadi lebih mudah diprediksi dan perusahaan dapat menentukan tingkatan kualitas yang ingin dicapainya.

        §         Akses kepada hak-hak intelektual dan pengalaman dan pengetahuan yang luas karena Perusahaan tidak mempunyai pengetahuan tentang sistem teknologi ini dan pihak outsourcer memilikinya.

        §         Jasa yang diberikan oleh outsourcer lebih berkualitas dibandingkan dikerjakan sendiri secara internal, karena outsourcer memang spesialisasi dan ahli di bidang tersebut. vendor dapat menyediakan solusi menggunakan personilnya, infrastruktur, jasa pengintegrasian, dan jasa pendukung. Vendor yang berpengalaman khususnya jenis jasa, banyak menguji sistem dan permasalahan potensial sehingga dapat diantisipasi lebih baik.

        §         Perusahaan merasa tidak perlu dan tidak ingin melakukan transfer teknologi dan transfer pengetahuan yang dimiliki oleh outsourcer.

        §         Meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan atau tidak melakukan investasi.

        §         Meminimalkan risiko kegagalan investasi yang mahal

        §         Katalisator dalam melakukan sebuah perubahan besar yang mungkin tidak dapat diperoleh jika dilakukan sendiri oleh internal perusahaan.

        §         Meminimalkan resiko melalui sharing risk kepada pihak ketiga.

        §         Penggunaan sumber daya Sistem Informasi belum optimal. Jika ini terjadi, perusahaan hanya menggunakan sumber daya sistem yang optimal pada saat-saat tertentu saja, sehingga sumber daya sistem informasi menjadi tidak dimanfaatkan pada waktu yang lainnya

        B. Kelemahan Outsourcing Antara Lain :

        §         Tidak secara fleksibel akan mampu menangani permasalahan-permasalahan yang unik dalam perusahaan

        §         Rentan dapat ditiru oleh pesaing lain bila aplikasi yang dioutsourcingkan adalah aplikasi strategik

        §         Kesepakatan dari kontraktual outsourcing harus berjangka waktu lama untuk menjamin keamanan data dan kelanggengan sistem yang sudah berjalan.

        §         Memerlukan waktu, kordinasi dan biaya dalam melakukan perubahan terhadap isi dari kesepakatan kerja sebelumnya.

        §         Adanya kecenderungan outsourcer untuk merahasiakan sistem yang digunakan dalam membangun sistem informasi bagi pelanggannya agar jasanya tetap digunakan.

        §         Perusahaan akan kehilangan kendali terhadap aplikasi yang dioutsourcekan. Dalam kasus seperti bila aplikasi tersebut merupakan aplikasi yang harus memerlukan penanganan khusus dan cepat maka harus terlebih dahulu menghubungi pihak vendor.

        §         Memiliki ketergantungan kepada pihak ketiga (pengembang dan pengelola) sehingga cukup sulit bagi perusahaan untuk mengambil alih kembali sistem yang sudah berjalan saat ini (memerlukan waktu dan tenaga).

        §         Memungkinkan terjadinya pencurian atau hilangnya sistem dan data yang perusahaan sehingga merugikan perusahaan.

        DAFTAR PUSTAKA

        Oetomo, Budi S.D. 2002. Perencanaan & Pembangunan Sistem Informasi. Andi. Yogyakarta

        O’Brien, JA . Marakas, george. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Mc Graw Hill. Inc Boston

        Ppn Riset Manajemen. 2008. outsourcing. www.ppm-manajemen.ac.id/…/PAPER/20OUTSOURCING/20final.doc

        PDF ; OUTSOURCING


        Posted in Uncategorized by with comments disabled.

        Perbedaan pengembangan software dengan pengembangan sistem informasi

        Setiap perusahaan senantiasa melakukan pengembangan terhadap sistemnya untuk memperbaiki sistem yang lama yang dirasa sudah tidak sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, seiring pertumbuhan organisasi yang semakin besar dan kebutuhan organisasi yang semkain besar pula, sistem informasi yang lama tidak lagi dapat beroperasi sesuai dengan harapan dan menyediakan informasi bagi manajemen. Untuk meningkatkan efesiensi dan efetivitas perusahaan maka diperlukan pengembangan sistem informasi dalam menunjang strategi perusahaan.

        Ada perbedaan antara pengembangan sistem informasi dan software yaitu pengembangan Sistem Informasi dimulai dari PSI (Perencanaan Sistem Informasi), Analisa, Perancangan hingga Implmentasi.  Sedangkan Pengembangan Sistem Software dimulai dari Analisa, perancangan hingga Implementasi, seperti terlihat pada Gambar. Pengembangan software merupakan bagian dari pengembangan sistem informasi.

        a. Fase Perencanaan Sistem

        Dibentuk suatu struktur kerja strategis yang luas dan pandangan sistem informasi baru yang jelas yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pemakai informasi.            Selama fase perencanaan sistem, dipertimbangkan :

        • Faktor-faktor kelayakan (feasibility factors) yang berkaitan dengan kemungkinan berhasilnya sistem informasi yang dikembangkan dan digunakan seperti kelayakan teknis, ekonomis, legal, operasional dan rencana
        • Faktor-faktor strategis (strategic factors) yang berkaitan dengan pendukung sistem informasi dari sasaran bisnis dipertimbangkan untuk setiap proyek yang diusulkan. Nilai-nilai yang dihasilkan dievaluasi untuk menentukan proyek sistem mana yang akan menerima prioritas yang tertinggi, seperti produktivitas, diferensiasi dan manajemen

        b. Fase Analisis Sistem

        Dalam fase ini dilakukan proses penilaian, identifikasi dan evaluasi komponen dan hubungan timbal-balik yang terkait dalam pengembangan sistem; definisi masalah, tujuan, kebutuhan, prioritas dan kendala-kendala sistem; ditambah identifikasi biaya, keuntungan dan estimasi jadwal untuk solusi yang berpotensi. Pendefinisian dari kebutuhan kebutuhan fungsional

        c. Fase Perancangan Sistem

        Tujuan Perancangan Sistem yaitu untuk memenuhi kebutuhan para pemakai sistem (perancangan sistem secara umum) dan untuk memberikan gambaran yang jelas dan rancang bangun yang lengkap kepada pemrogram komputer dan ahli-ahli teknik lainnya yang terlibat (perancangan sistem secara terperinci.

        Perancangan sistem secara umum berarti untuk menerangkan secara luas bagaimana setiap komponen perancangan sistem tentang output, input, proses, kendali, database dan teknologi akan dirancang. Yang dirancang di tapah perancangan secara umum adalah menggambarkan bentuk dari sistem teknologi informasinya secara konsep dan mengidentifikasi komponen –komponen dari sistem teknologi informasinya.

        Perancangan sistem secara terperinci  dimaksudkan untuk menggambarkan bentuk secara fisik dari komponen sistem teknologi informasi yang akan dibangun oleh pemogram dan ahli teknik lainnya.

        Selanjutnya dilakukan review secara menyeluruh untuk menemukan error dan kekurangan rancangan sebelum implementasi dimulai. Jika error dan kekurangan atau sesuatu yang hilang ditemukan sebelum implementasi sistem, sumber daya yang bernilai dapat diselamatkan dan kesalahan yang tidak diinginkan terhindari. Setelah semua review secara menyeluruh selesai dilaksanakan, perubahan-perubahan dibuat dan pemakai dan manajer sistem menandatangani laporan perancangan secara detail.

        d. Fase Implementasi Sistem

        Dalam fase ini, sistem siap untuk dibuat dan diinstalasi. Sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk implementasi sistem baru.. Laporan implementasi yang dibuat pada fase ini ada dua bagian, yaitu rencana implementasi dalam bentuk Gantt Chart atau Program and Evaluation Review Technique (PERT) Chart dan penjadwalan proyek dan teknik manajemen.  Tahap implementasi sistem, meliputi :

        v     Pengembangan perangkat lunak

        v     Persiapan lokasi peletakkan sistem

        v     Instalasi peralatan yang digunakan

        v     Pengujian Sistem

        v     Pelatihan untuk para pemakai sistem

        v     Persiapan dokumentasi

        Pengembangan sistem informasi sering disebut sebagai proses pengembangan sistem (SistemDevelopment) yaitu aktivitas untuk menghasilkan sistem informasi berbasis komputer untuk menyelesaikan persoalan organisasi atau memanfaatkan kesempatan yang timbul. Pengembangan sistem informasi memerlukan keterilbatan komponen – komponen dari sistem informasi, yaitu: Sumber daya manusia, Perangkat keras (Hardware), Perangkat lunak (Software),  Jaringan komunikasi (Communication network) dan Prosedur dan kebijakan (Policy and Procedures)

        Pengembangan software merupakan bagian dari pengembangan sistem informasi, oleh karena itu pengembangan software harus disesuaikan dengan perencanaan sistem informasi. Pengembangan Sistem Software (Software Development) adalah pengembangan suatu produk software melalui suatu perencanaan dan proses yang terstruktur. Pengembangan software ini dapat ditujukan untuk berbagai kepentingan dimana pada umumnya dapat dibagi menjadi 3 , yaitu:

        1. Kebutuhan khusus bagi bisnis tertentu
        2. Kebutuhan yang diharapkan oleh pengguna potensial
        3. Kebutuhan untuk kepentingan peribadi.

        Metodologi pengembangan perangkat lunak memanfaatkan beberapa kombinasi dari tahapan perangkat lunak yaitu market research, mengumpulkan syarat-syarat untuk solusi bisnis yang diusulkan,  menganalisis masalah, menyusun sebuah rencana atau desain untuk software-based solution, implementasi (coding) dari perangkat lunak, pengujian perangkat lunak, pengembangan, pemeliharaan dan perbaikan bug. Adapun kualitas pengembangan software yang dihasilkan harus mengacu pada ISO 9126 yaitu :

        Pengembangan sistem ataupun software dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu :

        1.            SistemDevelopment Life Cyle (SDLC)

        SDLC memberikan suatu kerangka kerja yang komprehensif untuk aktivitas pengembangan dan desain formal. SDLC menggambarkan suatu proses tahapan yang memberikan flexibilitas untuk beradaptasi secara cepat dengan permintaan yang tidak menentu dalam kondisi bisnis ini, metode ini juga memungkinkan implementasi ide dan koreksi atas kesalahan yang ditemukan pada tahap berikutnya.

        SDLC juga merupakan pola yang diambil untuk mengembangkan sistem perangkat lunak, yang terdiri dari tahap-tahap: analisa (analysis), desain (design), implementasi (implementation), uji coba (testing) dan pengelolaan (maintenance). Dalam rekayasa perangkat lunak, konsep SDLC mendasari berbagai jenis metodologi pengembangan software

        1.      Rapid Aplication Design (RAD)

        RAD adalah sebuah pengembangan sistem metodologi diciptakan secara radikal untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk merancang dan mengimplementasikan sistem informasi. Sistem ini dibuat untuk karena adanya batasan SDLC, tekanan untuk usaha untuk mempercepat
        pengembangan siklus hidup lebih pendek dan persaingan dalam lingkungan global. Ada empat hal yang harus diperhatikan yaitu dukungan management, partisipasi karyawan (people), metodelogi dan alat untuk prototypeping dan pembuatan code

        1.      Prototyping

        Prototyping adalah proses pengembangan suatu prototype secara cepat untuk digunakan terlebih dahulu dan ditingkatkan terus menerus sampai didapatkan sistem yang utuh. Proses membangun sistem ini yaitu ddengan membuat model awal atau prototype dan terus ditingkatkan sampai didapatkan sistem yan lengkap yang disebut proses iteraif. Kelebihan menggunakan proto typing adalah

        • Mengurangi waktu dan biaya: Prototyping dapat meningkatkan kualitas persyaratan dan spesifikasi yang diberikan kepada pengembang. Karena perubahan eksponensial biaya lebih untuk melaksanakan seperti yang terdeteksi kemudian dalam pembangunan, penentuan awal apa yang user benar-benar ingin dapat menghasilkan dan murah software lebih cepat.
        • Peningkatan dan meningkatkan keterlibatan pengguna: Prototyping membutuhkan keterlibatan pengguna dan memungkinkan mereka untuk melihat dan berinteraksi dengan prototipe yang memungkinkan mereka untuk menyediakan dan lebih lengkap umpan balik yang lebih baik dan spesifikasi

        DAFTAR PUSTAKA

        O’Brien, JA . Marakas, george. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Mc Graw Hill. Inc Boston

        Ppn Riset Manajemen. 2008. outsourcing. www.ppm-manajemen.ac.id/…/PAPER/20OUTSOURCING/20final.doc

        pdf : pengembangan Software


        Posted in Uncategorized by with 1 comment.

        Kesuksesan atau Kegagalan Dalam Pengembangan Sistem Informasi Di Suatu Organisasi

        Dalam era globalisasi, informasi memegang peranan yang penting dan strategis. Untuk dapat bertahan, perusahaan tidak cukup untuk menerapkan strategi produk atau harga, karena tuntutan konsumen telah berbeda, perusahaan dituntut untuk memperhatikan dan mengelola informasi untuk mendukung perusahaan dalam melakukan kegiatannya baik secara internal maupun dengan mitra bisnis. Melalui informasi perusahan dapat langsung mengetahui keinginan, kebutuhan dan keluhan konsumen, memantau pergerakan pasar, pesaing, pemasok dan pertumbuhan konsumen, sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan lancar dan mengambil keputusan manajerial secara objektif, karena sistem informasi memungkinkan perusahaan untuk memonitor kondisi riil dalam perusahaan baik tentang persediaan, pemasaran, retur, mobilitas, keuangan, dan pertumbuhan sumber daya manusia .

        Rosemary Cafasaro dalam O’Brien dan Marakas (2009) menyatakan terdapat beberapa alasan yang menyebabkan sukses atau tidaknya suatu perusahaan/organisasi dalam menerapkan SI. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan tersebut antara lain karena adanya dukungan dari manajemen eksekutif, keterlibatan end-user (pemakai akhir), penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas, perencanaan yang matang dan harapan perusahaan yang nyata.

        a. Dukungan manajemen eksekutif

        Management eksekutif memegang peranan penting dalam kesuksesan atau kegagalam sistem informasi, karena manajemen sebagai pengambil keputusan. Manajemen ekskutif harus ikut mengawasi jalannya sistem tersebut dan bukan diserahkan dan menjadi tanggungjawab departemen IT saja yang notabene adalah orang teknik karena konsep dan pengambilan keputusan merupakan tanggung jawab manajemen eksekutif. Oleh karena itu, manajemen eksekutif harus mendukung dan ikut terlibat dalam pengembangan sistem informasi. Manajemen eksekutif yang menentukan tindakan tindakan yang harus dilakukan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan.

        b. Keterlibatan end user

        Sistem informasi yag diterapkan bertujuan untuk membantu tugas tugas pengguna akhir (end user) sehingga proses berjalan lebih efeisien dan efektif. Keterlibatan end user penting untuk mendapatkan respn atau alasan sebelum siste inormasi yang baru menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan. Jika dari awal pengembangan sistem informasi tidak melibatkan end user, maka pada saat implementasi sistem informasi yang diterapkan akan dianggap tidak sesuai dan sulit diterapkan sehingga terjadi kegagalan dan sistem informasi akhirnya menjadi investasi yang sia – sia karena telah menelan biaya cukup besar tetapi tidak produktif.

        c. Penggunaan kebutuhan perusahaan  yang jelas

        Perusahaan harus memiliki visi IT yaitu mempunyai pandangan kedepan tentang apa yang akan dilakukan dan mempersiapkan dari sekarang apa yang akan dilakukan dimasa yang akan datang karena perubahan IT yang cepat, perusahaan harus memiiki visi IT jika tidak ingin kehilangan kesempatan.

        Kebutuhan tersebut tidak hanya terbatas pada jenis maupun karakteristik informasi saja, namun lebih jauh lagi menyangkut relevansi informasi yang dihasilkan, kecepatan alir informasi dari satu bagian ke bagian lain dalam organisasi, kualitas keakuratan informasi, target nilai ekonomis informasi yang diperoleh, batasan biaya yang harus dikeluarkan dalam pengolahan informasi, struktur para pengguna informasi, dan lain sebagainya.

        Pengembangan sistem harus digambarkan dengan jelas dan disesuaikan dengan perencanaan strategi perusahaan karena sistem informasi yang akan diterapkan harus menunjang strategi perusahaan dan menyesuaikan dengan kebutuhan perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan. Kegagalan informasi dapat terjadi jika pengguna tidak mengetahui apa yang diinginkan dalam suatu sistem dan hanya mengikuti trend, pada akhirnya sistem informasi yang diterapkan akan mubajir.

        d. Perencanaan yang matang

        Penerapan sisteminformasi harus direncanakan terlebih dahulu dalam bentuk IT planning dan dirancanakan dengan matang sesuai dengan tahapan, sehingga jika terjadi kegagalan tidak menyebabkan seluruh sistem terganggu atau berhenti beroperasi. Kegagalan dapat dideteksi terlebih dahulu kemudian segera  dilakukan perbaikan sehingga resiko kegagalan sistem dapat diminimalisir.

        e. Harapan perusahaan yang nyata.

        Perusahaan memiiki tujuan dan harapan yang ingn dicapai dengan adanaya sistem informasi. Harapan perusahaan terhadap penerapan sistem informasi haruslah harapan atau keinginan yang memiliki indikator yang jelas dan dapat dicapai disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dan ketersediaan sumberdaya yang memadai seperti material, modal, sumberdaya manusia dan sumber daya kesempatan lingkunga diluar organisasi. Jika perusahaan menerapkan target yang terlalu tinggi tanpa diimbangi oleh infrastrutur teknologi dan ketersedaan sumber daya maka membuat sistem informasi yang dikembangakan menjadi tidak fokus dan tidak tepat sasaran.

        DAFTAR PUSTAKA

        O’Brien, JA . Marakas, george. 2009. Management Information sistem. Ninth edition. Mc Graw Hill. Inc Boston Universitas Gunadarma

        Oetomo, Budi S.D. 2002. Perencanaan & Pembangunan Sistem Informasi. Andi. Yogyakarta

        pdf : rosemary 9kesuksesan atau kegagalan sistem informasi


        Posted in Uncategorized by with comments disabled.

        SISTEM INFORMASI UNTUK MENUNJANG STRATEGI BISNIS

        Sistem informasi saat ini bukan hanya sebuah alat yang berfungsi sebatas efesiensi dan efektifitas, tetapi sistem informasi saat ini merupakan sumberdaya yang memegang peranan penting dalam memenangkan persaingan bisnis. Sistem informasi berfungsi untuk membantu proses dan operasi bisnis, mendukung pembuatan keputusan bisnis dan mendukung strategi dalam mewujudkan keunggulan kompetitif perusahaan, seperti terlihat pada Gambar.

        Gambar . Peranan Sistem Informasi

        Sumber. O’Brien dan Marakas (2009)

        Globalisasi menuntut perusahaan untuk masuk kedalam era informasi. Perusahaan yang mengabaikan sistem informasi berarti telah melakukan kesalahan besar, karena era informasi menuntut perusahaan untuk dapat memanfaatkan data dan informasi dan mengubahnya untuk mendukung strategi adalah perusahaan yang mampu bertahan. Sistem informasi digunakan untuk mendukung strategi perusahaan bukan hanya sebatas pada efesiensi  atau pengurangan biaya tetapi sistem informasi digunakan disemua level di perusahaan yang beroritentasi baik internal maupun eksternal untuk menjangkau konsumen dalam rangka memenangkan persaingan.

        Menurut Mawardi (2010), Penerapan sistem informasi strategis dapat di katakan strategis jika tujuannya memenuhi kriteria sebagai berikut:

        • Mencapai posisi kepemimpinan biaya yang rendah
        • Menyediakan Diferensisi Produk/jasa dan nilai bagi konsumen yang lebih besar
        • Menciptalan aliansi antar perusahan dan pemasok serta pelanggannya, sehingga menguragi biaya untuk pemasok dan menyediakan dukungan khusus bagi pelanggannya
        • Mempertinggi nilai suatu produk jasa dengan menyediakan tampilan atau dukungan yang inovatif
        • Memungkinkan pertimbuhan pada pasar yang ada secara geografis atau ekspansi volume
        • Membantu mengenalkan suatu produk ke pasar

        Keputusan strategi bisnis dari perusahaan tergantung pada produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan, industri di mana perusahaan bersaing, pesaing, pemasok, dan pelanggan dari perusahaan dan tujuan jangka panjang dari perusahaan Menurut Porter (1980) dalam Jogiyanto (2003), ada tiga strategi yang bisa digunakan untuk menghadapi pesaing yaitu cost leadership, differentiation dan focus. Menurut Jogiyanto(2003) ada strategi lain yang dapat diterapkan yaitu innovation, alliance dan growth.

        1. Cost Leadership Strategy

        Suatu sistem informasi mendukung strategi ini dengan cara  menurunkan secara drastis biaya proses bsnis dengan melakukan rekayasa proses bisnis. Menurunkan biaya dari pemasok dan menurunkan biaya ke pelangan sehingga perusahaan akan mendapatkan biaya terendah dan unggul dari segi harga

        Perusahaan yang menerapkan sistem ini contohnya Caterpillar Company (CAT), perusahaan alat berat yang berlokasi di Peoria, Illinois. Tahun 1985 CAT kalah bersaing dengan perusahaan jepang dan mengalami kerugan $953 juta. Kemudian CAT memasang sistem informasi yang dapat menganalisis data, trend dan evaluasi kineja dealer, EDI yang menghubungkan dealer dan pemasok, teleconference, CIM, MRP II. Hasilnya pengurangan biaya 60% dan pengiriman tepat waktu meningkat 70%.

        2. Differentiation Strategy

        Sistem informasi mendukung strategi ini dengan cara menggunakan teknologi informasi, untuk membuat produk atau jasa yang berbeda dan mengurangi keuntungan diferensiasi dari pesaing sehinga perusahaan dapat menyediakan produk atau jasa yang unik atau berbeda dengan nilai yang lebih besar kepada pelangan dibanding pesaingnya. Perusahaan yang menerapkan sistem informasi untuk mendukung strategi differensiasi yaitu Digital Equipment Corporation yang menggunakan sistem pakar sehingga dapat menawarkan computer dengan spesifikasi yang sesuai dengan keinginan konsumen.

        3. Focus Strategy

        Sistem informasi mendukung strategi ini dengan cara membantu perusahaan memfokuskan pada produk atau jasa khusus yang memungkinkan untuk mengembangkan ceruk pasar baru. Contohnya perusahaan Domino’s Pizza yang focus pada penjualan pizza yang dikirim tepat waktu tidak lebih dari 15 menit dengan menggunakan sistem caler ID yang dapat mengetahui alamat penelpn dengan cepat dan mengirimkannya tepat waktu.

        4. Innovation Strategy

        Sistem informasi mendukung strategi ini dengan menemukan cara khusus dalam berbisnis yaitu menyediakan produk atau jasa inovasi terbaru yang belum dilakan oleh pesaingnya. Contohnya Merril Lynch yang bekerjasama dengan Bank One menghasilkan produk Cash management Accont (CMA), dimana konsumen dapat menjadi nasabah pasar uang dan pasar modal sekaligus dan mendapatan laporan keuangan yang terpadu.

        5. Alliance Strategy

        Suatu sistem informasi mendukung stratgi ini dengan membuat hubungan kerjasama yang menguntungkan (information partnership) dengan pemasok atau perusahaan lainnya dengan cara menggunakan sistem informasi antar organisasi untuk menghubungkan sistem sistem informasi perusahaan lain. Contohnya kerjasama antara Wal Mart dan P&G untuk mengontrol inventorinya.

        6. Growth Strategy

        Sistem informasi menduung strategi ini dengan membantu mengenangkan dan mendiversifikasi pasar. Contonya Citicorp yang menggunakan jaringan telekomunikasi global seperti ATM pertamakali dikota New York untuk mendapatkan nasabah baru.

        Sistem informasi mendukung strategi perusahaan jika dapat menciptakan nilai di masing masing kegiatan dalam rantai nilai. Berikut adalah sistem teknologi Informasi yang dapat diaplikasikan di masing masing aktivitas untuk menciptakan dan meningkatkan nilai. Penerapan sistem informasi strategic dapat dilihat pada Gambar.

        Penerapan sistem infomasi strategic di model rantai nilai

        Gambar . Penerapan sistem infomasi strategic di model rantai nilai

        Sumber : Jogiyanto, 2003

        DAFTAR PUSTAKA

        Jogiyanto. 2003. Sistem teknologi informasi. pendekatan terintegrasi : konsep dasar, teknologi, aplikasi, pengembangan dan pengelolaan. ANDI. Yogyakarta

        Mawardi, 2010. Sistem Informasi Strategis . http://informasi-marwadi.blogspot.com/2010/04/sistem-informasi-strategis.html

        pdf : SIS (sistem informasi strategik)


        Posted in Uncategorized by with comments disabled.

        PEMILIHAN OUTSOURCING – INSOURCING – CO SOURCING DALAM PERUSAHAAN

        Perusahaan harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap  perubahan- perubahan yang terjadi seperti perubahan pasar, perkembangan teknologi yang cepat, masuknya pesaing – pesaing baru, preferensi dan kebutuhan konsumen, pertumbuhan organisasi dan strategi yang diterapkan saat ini oleh perusahaan terkadang tidak berjalan baik sehingga harus dikembangkan ide dan strategi baru salah taunya adalah system informasi.  Proses bisnis saat ini tidak bisa dilepaskan dari peranan system informasi, bahkan SI sudah menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mendukung keunggulan kompetitif dan meningkatkan daya saing  perusahaan.

        Teknologi informasi saat ini berperan penting dalam strategi organisasi sehingga banyak organisasi yang menggantungkan kesuksesannya pada teknologi informasi yang dimiliki. Dukungan sistem informasi yang baik, memberikan manfaat bagi perusahaan seperti efesiensi kegiatan operasi sehari hari, peningkatan produktivitas dan pengurangan biaya.  Pengadaan system informasi merupakan tahap kritis pada siklus sistem informasi, karena memerlukan waktu lama, biaya tinggi & sumber daya besar. Kesalahan pada tahap ini mengakibatkan system gagal, tidak tepat waktu, dan biaya melebihi anggaran, sehingga pemilihan metode pengembangan system teknologi informasi merupakan hal yang cukup krusial karena berkaitan dengan jenis usaha,strategi dan pengembangan perusahaan ke depan. Pengembangan SI dapat dilakukan beberapa cara yaitu : In-sourcing, out-sourcing dan co-sourcing. Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan masing – masing

        1. IN SOURCING

        Insourcing adalah metode penggunaan sumber daya manusia yang berasal dari pihak internal yang dibentuk dalam satu bagian khusus untuk menangani atau membangun sistem untuk bagian-bagian lain dalam perusahaan. Para spesialis teknologi informasi biasanya tergabung dalam satu departemen perusahaan yang disebut EDP (Electronic Data Processing), IT (Information Technology), atau IS (Information System), atau E-ICT (Education ICT).

        2. OUT SOURCING

        Outsourcing adalah metode penggunaan sumber daya manusia yang berasal dari pihak eksternal (pihak ketiga) untuk menangani atau membangun sistem perusahaan dengan cara membeli aplikasi dengan vendor

        3. CO SOURCING

        Co sourcing adalah jenis hubungan pekerjaan dan aktivitas, dimana hubungan antara perusahaan dan rekanan lebih erat dari sekedar hubungan outsourcing biasa. co sourcing berarti perusahaan melakukan partnership dengan profesional di luar perusahaan. Dalam hal ini perusahaan tidak serta merta menyerahkan  seluruh pekerjaan kepada profesional dan tidak mempekerjakan karyawan tetapnya, tetapi menyertakannya secara bersama-sama menjalankan penyusunan dan pengembangan sistem informasi

        Berdasarkan kelebihan dan kelemahan tersebut, metode mana yang sebaiknya diterapkan dalam perusahaan??

        Pemilihan metode tergantung pada situasi dan jenis usaha suatu perusahaan, strategi perusahaan dan skala ekonomi

        A. PRO OUTSOURCING

        Metode outsourcing cocok digunakan jika

        • kebutuhan pembangunan TI bukan merupakan core competensi perusahaan tetapi proyek besar yang membutuhkan keahlian IT yang tinggi. Selain itu, perusahaan tidak memiliki sumberdaya manusia yang kompeten dan jika mempekerjakan staff justru menambah biayaseperti biaya operasional, biaya kerja, tunjangan, dll.
        • Perusahaan tidak yakin dapat merawat dan mengembangkan fungsi IT untuk memenuhi kebutuhan perusahaan yang semakin tinggi, kemampuan re-engineering, ROI, kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi terbaru dan keberlanjutan system.

        Beberapa tahun terakhir ini, banyak bermunculan perusahan outsourcing di bidang IT, seperti terlihat pada Gambar bahwa 73% perusahaan menggunakan metode outsourcing untuk membantu operasi perusahaan dan meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap outsourcing IT semakin meningkat. Fokus outsourcing teknologi informasi telah berkembang mulai dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, standarisasi perangkat keras dan perangkat lunak, sampai pada solusi total yang mengacu pada manajemen aktiva

        Gambar. Perusahaan Yang Menggunakan Tenaga Outsourcing

        Sumber : Divisi Riset PPM Manajemen, Agustus 2008 dalam www.ppm-manajemen.ac.id

        Keputusan perusahaan untuk melakukan outsourcing dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut O’brien (2009), ada beberapa alasan perusahan melakukan outsourcing yaitu :

        1. Meningkatkan fokus perusahaan.

        Perusahaan dapat fokus pada masalah dan strategi utama dan umum sedangkan pelaksanaan tugas sehari-hari yang kecil-kecil diserahkan pada pihak ketiga, sehingga akan lebih menguntungkan bagi perusahaan jika menyerahkan pengelolaan teknologi informasinya kepada perusahaan yang memiliki keahlian khusus di bidang teknologi informasi. Dengan meningkatkan fokus pada bisnis utamanya maka perusahaan juga akan mampu lebih meningkatkan lagi core competence atau kompetensi utamanya.

        2. Memanfaatkan kemampuan kelas dunia.

        Pada umumnya, perusahaan outsource  mempunyai pengalaman yang cukup banyak bekerja dengan para kliennya dalam memecahkan masalah yang mungkin serupa atau hampir serupa. Sehingga perusahaan akan memiliki sistem yang memeiliki keunggulan kelas dunia dalam bidangnya.

        3. Mempercepat keuntungan yang diperoleh dari reengineering.

        Memperbaiki proses di perusahaan sendiri untuk meniru standard perusahaan kelas dunia memerlukan waktu yang sangat panjang dan sukar. Makin banyak perusahaan yang mengatasi hal ini dengan melakukan outsourcing agar mendapatkan hasil langsung dan tanpa risiko.

        4. Membagi risiko.

        Apabila semua aktivitas dilakukan oleh perusahaan sendiri, semua investasi yang diperlukan untuk setiap aktivitas tersebut harus dilakukan oleh perusahaan sendiri pula. Apabila beberapa aktivitas perusahaan dikontrakkan kepada pihak ketiga, maka risiko akan ditanggung bersama pula.

        5. Sumber daya sendiri dapat digunakan untuk kebutuhan-kebutuhan lain.

        perusahaan tentu mempunyai keterbatasan dalam pemilikan sumber daya. Tantangan yang terus-menerus harus dihadapi adalah bahwa sumber daya tersebut harus selalu dimanfaatkan untuk memanfaatkan bidang-bidang yang paling menguntungkan.

        6. Memungkinkan tersedianya dana kapital.

        Outsourcing juga bermanfaat untuk mengurangi investasi dana kapital pada kegiatan non core. Sebagai ganti dari melakukan investasi di bidang kegiatan tersebut, lebih baik mengontrakkan sesuai dengan kebutuhan yang dibiayai dengan dana operasi, bukan dana investasi.

        7. Menciptakan dana segar.

        Outsourcing, sering kali dapat dilakukan tidak hanya mengontrakkan aktivitas tertentu pada pihak ketiga, tetapi juga disertai dengan penyerahan/penjualan/ penyewaan aset yang digunakan untuk melakukan aktivitas tertentu tersebut. Aset tersebut misalnya kendaraan, bengkel, peralatan angkut dan angkat dan sebagainya. Dengan demikian, akan mengalir masuk dana segar ke dalam perusahaan. Dana ini akan menambah likuiditas perusahaan dan dapat dipergunakan untuk maksud-maksud lain yang lebih bermanfaat.

        8. Mengurangi dan mengendalikan biaya operasi.

        Salah satu keuntungan yang sangat taktis dari outsourcing adalah memungkinkan untuk mengurangi dan mengendalikan biaya operasi. Pengurangan biaya ini dapat dan dimungkinkan diperoleh dari mitra outsource melalui berbagai hal misalnya spesialisasi, struktur pembiayaan yang lebih rendah,  ekonomi skala besar (economics of scale) dan lain-lain.

        9.  Memperoleh sumber daya yang tidak dimiliki sendiri.

        Perusahaan perlu melakukan outsourcing untuk suatu aktivitas tertentu karena perusahaan tidak memiliki sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tersebut secara baik dan memadai.

        10.  Memecahkan masalah yang sulit dikendalikan atau dikelola.

        Outsourcing dapat juga digunakan untuk mengatasi pengelolaan hal atau mengawasi fungsi yang sulit dikendalikan, misalnya birokrasi ekstern yang sangat berbelit yang harus ditaati oleh perusahaan yang dimiliki negara dalam menjalankan fungsi pembelian barang dan jasa, yang sulit ditembus dengan cara-cara biasa. Hal ini mungkin dapat dipecahkan dengan mengkontrakkan saja seluruh pekerjaan tersebut pada pihak ketiga, yang berbentuk swasta yang tidak terikat pada birokrasi tertentu.

        Dari alasan tersebut diatas, didapatkan data bahwa alasan yang paling banyak dilakukan dikarenakan perusahaan ingin fokus tehadap core business sebesar 33,75%, sebesar 28,75%  untuk penghematan biaya, sebesar 15% untuk menjaga turn over karyawan, sebesar 11,25% untuk memoderinsasi dunia usaha dan sisanya disebabkan faktor lainnya.

        Gambar. Alasan Menggunakan Outsourcing

        Sumber : Divisi Riset PPM Manajemen, Agustus 2008 dalam www.ppm-manajemen.ac.id

        Dengan outsourcing, berarti perushaan mempercayakan pengelolaan system informasi kepada perusahaaa, hal ini memiliki resiko yang cukup signifikan terhadap tingkat kesuksesan atau kegagalan suatu perusahaan. Untuk meminimalisir resiko, perushaan harus memperhatikan tahapan yang terjadi dalam outsourcing. Tahapan outsourcing dapat dilihat pada gambar. Selain itu, perusahaan juga harus memperhatikan factor factor yang dapat mempengaruhi kesuksesan implementasi SI. O’Brien (2009) mengemukakan ada 10 faktor yang menjadi kunci sukses penerapan outsourcing yaitu :

        • Memahami tujuan dan sasaran perusahaan
        • Rencana dan visi yang strategic
        • Pemilihan vendor/rekanan yang tepat
        • Komunikasi yang terbuka antara pihak yang berkepentingan
        • Dukungan dan keterlibatan dari pihak manajemen dan eksekutif
        • Dapat menjaga jarak
        • Kontrak yang terstuktur
        • Memperhatikan isu karyawan
        • Justifikasi keuangan
        • Menggunakan keahlian luar.

        Gambar. Tahapan Outsourcing

        Dalam pemilihan vendor/rekanan harus mempertimbangkan factor seperti komitmen terhadap kualitas, harga, reputasi, kontrak perjanjian, sumberdaya, added value capability, kesesuaian budaya, hubungan yang telah terjalin, lokasi dan factor lainnya. Untuk mengatasi resiko hilangnya kompetensi perusahaan perusahaan harus memisahkan fungsi sistem informasi yang tidak memiliki nilai tambah dari fungsi kompetensi inti sistem informasi yang memiliki nilai tambah. Dengan demikian outsourcing sistem informasi akan menghasilkan manfaat strategis jangka panjang Pada umumnya outsourcing banyak dilakukan  untuk perawatan dan perbaikan, pelatihan, pengembangan aplikasi, konsultasi dan re-engineering, manframe data center, pelayanan server dan administrasi, perbaikan desktop atau untuk hanya sebatas untuk mendukung end user.

        B.    PRO INSOURCING

        Metode insourcing dipilih jika :

        • Brand dan reputasi perusahaan dianggap penting, daripada kualitas
        • Perusahaan tidak memiliki dana cukup untuk berinvestasi dalam outsourcing
        • Departemen IT dapat diandalkan baik dari segi kualitas dan standar operasional internal

        Jika dibandingkan dari sisi biaya, outsourcing lebih unggul karena tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk mempekerjakan karyawan baru. Namun, saat ini, investasi tidak hanya dilakukan terhadap aset fisik, tetapi sumber daya manusia juga merupakan aset intangible. Insourcing dapat menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap perusahaan sehingga karyawan dapat memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Masalah kekhawatiran apabila karyawan meninggalkan perusahaan, dapat diatasi dengan memperlakukan karyawan dengan layak. Lingkungan pekerjaan yang baik juga dapat membuat karyawan tetap bekerja dalam perusahaan tersebut meskipun ditawarkan pekerjaan baru dengan gaji yang lebih baik.

        Adapun tahapan pengembangan system informasi dalam perusahaan menggunakan pendekatan SDLC ( system development Life Cycle) ataus siklus pengembangan system. Adapun tahapan pengembangan system digambarkan dalam gambar berikut :

        Gambar. Pengembangan Sistem SDLC

        C. PRO CO-SOURCING

        Beberapa perusahaan merasa tidak nyaman outsourcing proses bisnis yang lengkap. Outsourcing beberapa bagian mungkin menawarkan solusi, sementara atau akhir. Perusahaan lain lebih memilih untuk menjaga proses bisnis penuh di-rumah, tapi mendelegasikan beberapa tanggung jawab strategis atau operasional yang diperlukan.

        Untuk kedua situasi tersebut co-sourcing dapat menjadi alternatif solusi  yang baik. Perusahaan dapat mengontrol data, dan informasi hasil pengolahan IT, tetapi perusahaan juga mendapatkan keuntungan perkembangan IT yang ditawarkan oleh solusi outsourcing dan konsultasi. Co sourcing menguntungkan untuk dilakukan pada bidang-bidang pekerjaan yang mengandung rahasia perusahaan seperti bidang audit.

        BERDASARKAN STRATEGI PERUSAHAAN

        Aplikasi IT juga berpengaruh terhadap strategi perusahaan. Strategi grid yang dikembangkan Mc farlan dan Mc kenney’s dapat digunakan untuk menganalisis kontribusi TI terhadap posisi strategic perusahaan. Posisi perusahaan dalam strategi grid ditentukan oleh dua dimensi yaitu ketergantungan operasi perusahaan terhadap TI sekarang dan Portofolio pengembangan aplikasi TI di masa depan

        Gambar. Strategi Grid Dalam Aplikasi IT

        Sumber : Jogiyanto, 2003.

        BERDASARKAN SKALA EKONOMI

        Jika dilihat dari skala ekonomi dan kemampuan sisi ekonomi perushaan masih rendah, sebaiknya perusahaan menggunakan outsorcing hal in dikarenakan perusahaan dapat mengeefesiensikan pengembangan. Jika dari skala ekonimi masih rendah tetapi kemampuan ekonomi tinggi maka perusahaan dapat menggunakan co sourcing, yaitu perusahaan bekerjasama dengan perusahaan luar dengan mengikutsertakan karyawannya dalam rangka peningkatan skala ekonomi yang lebih besar. Jika dari skala ekonomi sudah besar dan kemampauan ekonomi juga tinggi, sebaiknya perusahaan menggunakan mengendalikan SI secara internal (insourcing) untuk mendukung strategi perusahaan dalam memperbesar pangsa pasar.

        Gambar. Pengaruh Ekonomi Terhadap In Sourcing, Outsourcing Dan Co Sourcing

        Sumber ; http://www.cds-global.com

        KESIMPULAN

        Kecepatan perkembangan teknologi informasi yang cepat membuat perusahaan harus beradaptasi mengikuti perubahan tersebut. Kemampuan perusahaan dalam mengembanagkan system berbeda, untuk itu dalam pengembanagan system terdapat 3 alternatif metode yang dpaat diguankan  yaitu insourcing, out sourcing dan co sourcing.

        Jika perusahaan mememiliki kemampuan SDM yang memeiliki keah;ian It dan dana yang cukup besar untuk pengembangan infrastruktur IT maka sebaiknya metode yang digunakan adalah insourcing, hal ini akan memebuat system informasi yang dikembangakan menjadi salah satu strategi kompetitif perusahaan. Tetapi jika perusahaan ingin memfokuskan pada core competensinya, maka metode outsourcing dapat menjadi pilihan, tetapi yang harus diperhatikan adalah pemilihan vendor atau rekanan dan kunci sukses lainnya. Jika perusahaan ingin mendapatkan system tetapi juga ingin mengontrol system tersebut maka co sourcing dapat menjadi pilihan.

        DAFTAR PUSTAKA

        Jogiyanto. 2003. Sistem teknologi Informasi. pendekatan terintegrasi : Konsep dasar. teknologi. Aplikasi, pengembangan dan pengelolaan. ANDI. Yogyakarta

        O’Brien, JA . Marakas, George. 2009. Management Information system. Ninth edition. Mc Graw Hill. Inc Boston Universitas Gunadarma

        Ppn Riset Manajemen. 2008. outsourcing. www.ppm-manajemen.ac.id/…/PAPER%20OUTSOURCING%20final.doc

        Rahmiati, 2008. Analisis Biaya-Manfaat dan Aplikasi Model Penerimaan Teknologi Pada Keputusan Outsourcing TI. Jurnal Bisnis & Manajemen Vol. 4, No. 1, 2008. Universitas Andalas

        http://maghleb.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/31/pengembangan-sistem-informasi-outsourcing-vs-insourcing/

        http://iqbalfajar.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2010/07/31/outsourcing-kelebihan-dan-kelemahan-dalam-pengembangan-sistem-informasi-manajemen/

        http://www.cds-global.com/resources/whitepapers/advantages_of_outsourcing.html

        PDF : outsourcing-insourcing-cosourcing


        Posted in Uncategorized by with 2 comments.

        waktu

        Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.

        Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
        Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

        Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….

        Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
        Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.

        Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.

        Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
        Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?

        Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.


        Posted in Uncategorized by with 1 comment.

        Hello world!

        Welcome to Blogstudent.mb.ipb.ac.id Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!


        Posted in Uncategorized by with 1 comment.
        Skip to toolbar